Sebuah Gengaman Harapan

edit
Jalan Berliku dalam ingatan
mata memandang seakan tak terpandang,
Berhenti dalam fase rintangan- Terisak isak air mata dalam renungan
dahan pohon akasia lama, jatuh perlahan lahan dengan penuh kejutan, kawan..
air tawar bergelombang dengan ritme seketika menerpa
sensasi hari ini yang penuh problematika harapan...
aku menbisu di tengah gelap gulita,
di penerangan hati seorang wanita
yang menbuat hatiku terpecah
karena seutas kecewa...

Masih di Kota yang sama dalam kebimbangan
dengan orang -orang yang berbeda pula
tidak seperti kemarin yang selalu muntah sengsara
habis kata- kata karena diriku berair mata..
kata-kata nya menyakit jiwa terelung dalam nadinya
biarkan ku simpan semampuku bisa- di tengan deras nya perasaan
dan biarkan lah ini hanya belaka' dengan angan- semata

Aku abadikan cerita sayang ini'
di atas kertas yang tak bertuan...
cahaya-cahaya senyummu; membutakan mata.
walau sayab ini patah, aku akan tetap terbang juga;
diriku sadar pada mu adinda,
diriku hanya orang biasa dan kelas rakjat biasa"'
sedangkan dia mewah berantah dalam syarat negara.

Setidaknya-saya punya secercah harapan
untuk tidur dalam nafasmu adinda...
apa yang diriku gengam akan mu raih juga..
Percayalah adinda, Hanya engkau yang terpatri dalam jiwa.

Saya salin lagi, tulisan ini di tulis tanggal 03 Oktober 2010.
di Basecamp Rumbai.
dari beberapa narasumber dan hearing dengan kejadian sehari-hari, dalam lingkungan  pertemanan

Misbul abdillah
Fakultas ilmu budaya Universitas lancang kuning.
http://misbulabdillah.blogspot.com/