SAJAK PERJUANGAN-MISBUL ABDILLAH
Sajak 1: kami telah mengahamba di jalan raya demi harapan yg terbuang-memakan sisa nasi orang yag terbuang-teriak kami tak di hiraukan-zalim zaman akan di didatangkan.
Sajak 2: jika anda kaya, orang lain akan mengatakan anda adalah keluarganya atau sahabat karib lama. tapi jika anda miskin, mereka akan meghapuskan anda dari daftar keluarganya. ini nyata dengan konsep yg sebenarnya
Sajak 3: kecerian yang kita berikan, hanya sebagian saja yang terlampiaskan oleh mata- tapi kesedihan yg anda rasakan tertutup oleh rimba hutan yan lebat-jangan bohongi diri dengan kelebihan
Sajak 4: perih nya hidup tampa ada yang bisa si harapkan, adalah suatu kemajuan akan kepribadian-jangan lengahkan akan nasip-guraaun negatif-sampah negatif' apa yg anda fikirkan adalah benar adanya.turuti hati dan mindset lambik otak kiri--- hasilnya...akan terasa.
Sajak 5: malam yag dingin mengantarkan akan kerinduan tanah rantau yg jauh masih di impikan, keringat darah tak bertuan, tengkulak teriak kezaliman-perputaran hidup akan saya rasakan-hancur hari biar dalam kgengaman- kata kata anda akan kami rekam...
Sajak 6: Bukan kami tak sangub berbuat kawan-biarlah kami menghampa di ruas jalan ini, kami tak kan pulang-sebelum badan tergoyahkan, sampaikan salam sama orang tua pendahulu-kami baik dalm kerindaan.
Sajak 7: badan kurus kering melara di jalan, kami tidur keasingan-koran koran berserakan' tutup mata hanya bayangan-menutup hidup pun jadi tumpuan-kebisingan yg kami rasakan-hanya hampa tak bertuan. jalan terjal masih ada-tunggu kami di sana.
Sajak 8: dingin nya hari ini siapa yang tahu-anda lah kaya raya-di mata anda' di mata kami anda hanya tikus meronta anak manja dengan emas sekitar tubuh yg membelengu-jangan permainkan anak kecil bersamuraikan keberanian
Sajak 9: berbekal pena dan kertas koyak yg kusam-diary hidup tetap akan kami pegang-MEMORIBILIA baru dan lama akan tersimpan-faedah di melintas batas jalan yg tak ada ujung-jangan hiraukan jalan- terjatuh akan di harapkan.
Sajak ke sepuluh: kesenangan orang akan kami simpan, akan kami hapus air mata malam yg kusam-saya sendiri tak sangub menahan-perih hati curahan orang,kedinginan malam yg mencekam.di sudut kota ku merekam kejadian.
Pendekar Sastra Riau Lingga Di sudut kota kami berjalan-langit menderu hebat-bising jalan kami hiraukan, memadang langit akan mimpi jauh-melara lara kami perhatikan, saat ini kami belum pulang-seribu dua ribu akan kami gengam.demi ayah ibu jauh di renungan.