Fazzira Zivanka Asyiriah...

edit
Sebuah nama terlupa
antara cita-cita dan cinta
aku yang mengharapkan jauh terluka antara sepi duka dalam kerinduan

Fazzira...
kusebut nama mu dalam ingatan
kasihku, tak terbantahkan
karena engkau hati dalam selimut kerinduan
berair beralaskan emas

Riau lingga kota lama
aku yang berada di antaranya
kepulauan lama yang terlupakan
derai derai angin yang menyapa
mengharapkan kasih mu, yang tak seberapa

Perahu kecil yang ku arunggi
akan tengelam dalam rindumu
yang menjunjung tinggi adat peradapan islam
membara dalam kegelapan lama
membahana seketika diantara semesta

Bintang-bintang yang bergantunggan
sudah tak menyapa' sahut didalam mata air cinta
berseberangan dengan awan putih pagi yang terang
demi pagi yang di tanti, Fazzira...
kesejukan hati' matamu membawa lara
di keheninggan senja, tepian laut selat malaka kita
termenung, seketika mataku mentapnya
mata syair biru dirimu; merona keemasan..

Fazzira...
malam syakban, di dalam kelembutan malam kembali,
hanya aku, yang tersisa di kedinginan
tulisanku yang bercampur aduk akan kerinduan
merindukan mu, yang jauh dari tatapan...

Merpati kerajaan terbang di antara lintasan
tunggu aku, mengepalkan sayap di permukaan
bermandikan keringat dan kehausan
tampa asa, lara ku menemukan..
bayangan-bayangan mu.. bagai hilang dalam rajutan ingatan
dan di Ramadhan datang juga tampa pemberitahuan
bulan sabit diawan gelap; memberikan senyuman
awan putih bergerak cepat dalam hayalan
menerka nerka dirimu jadi ancuan

Fazzira Zivanka Asyiriah
Cerita harapan di semenanjung kepulaun Riau lama

Karya dan goresan Hidup
Misbul abdillah
Bernaustin di rumbai pesisir-Pekanbaru